“The woman who follows the crowd will usually go no further than the crowd, the woman who walks alone is likely to find herself in places no one has ever been before” – Albert Einstein
Well, sejujurnya dulu saya hanya pernah mendengar e = mc2 tentang Albert Einstein. Bapak yang super jenius ini ternyata tidak hanya canggih dalam kemampuan fisika-matematikanya doank. Tapi lewat kata-kata di atas tadi tentang wanita, saya menyadari bahwa Einstein luar biasa.
Mengapa?
Karena saya pikir, akhir-akhir ini saya hanya berjalan berdasarkan kemana kerumunan orang-orang berjalan. Bukan. Bukan hanya saya. Tetapi sebagian besar orang hanya mengikuti arus yang ada.
Saya sempat menjatuhkan pikiran saya pada titik di mana saya seharusnya menerjang arus yang ada. Tetapi apa daya, terkadang keinginan tidak sejalan dengan keadaan. Saya tidak mampu menolak arus itu membawa saya kemana.
Saya menangis saat sedih, tertawa saat senang, marah saat kesal, dan setiap emosi lainnya. Saya hanya menurut kemana arus membawa saya.
Saya berpakaian karena trend saat itu, berdandan karena wanita-wanita cantik jaman sekarang, belajar karena orang-orang pintar di keliling saya. Lagi-lagi saya hanya mengikuti kemana arus membawa saya.
Saya belajar biologi karena memang itu ada dalam bahasan, matematika karena itu dikatakan sebagai dasar dari setiap ilmu, kimia karena tuntutan untuk menemukan berbagai macam obat. Dan pada akhirnya saya hanya berjalan sesuai kemana arus membawa saya.
Tetapi di tengah hari-hari sibuk saya. Di kesempatan yang sangat sebentar ini, saya membagi sedikit saran untuk semua kawan saya. Terkadang, hidup itu seperti lautan dan kita batu karangnya. Lautan menggulung ombak demi ombak lalu terus-terusan menerpa kita. Kita tidak beranjak dari lautan itu. Kita berdiri diam, membiarkan ombak mengikis kita hari demi hari. Kita bertingkah seolah kita tegar. Padahal kita kesakitan.
Saya kini belajar untuk berpindah pada pemikiran saya. Saya mencoba untuk tidak mengikuti kerumunan itu. Saya akan pergi jauh, entah kemana. Karena saya ingin menemukan diri saya yang samasekali baru, yang dikenal orang-orang bukan sebagai wanita pengikut, tetapi wanita yang menunjukan jalan.
Saya tidak ingin berakhir SAMA. Karena tentu setiap pribadi itu berbeda. Oleh karena itu, saya ingin menjadi berbeda daripada orang-orang lain. Karena Tuhan berkarya dalam diri saya bukan sebagai orang lain, tetapi sebagai saya. Karena tangan Tuhan bekerja dalam diri saya bukan untuk menjadi seperti orang lain, tetapi sperti saya.
Ya, wanita yang berjalan sendirian, seberapa pun beratnya, ia akan sampai di tujuan yang baru dan dikenang. Saya ingin dikenang.
nice vi…
tulisanmu menginspirasikan saya… hehe
thanks
Comment by KarL — 22 January 2011 @ 11:03 pm |
aminkan saja
hehe
Comment by Vv — 20 May 2011 @ 7:37 am |
Setiap mereka yang dikenang ga pernah bertujuan untuk dikenang. Whoever walks around and saying how awesome he is, is completely a loser. Those who’s remembered by people are those who has built something extraordinary. There are 2 points either to be remembered for extraordinarily bad things or extraordinarily good things. But just to be simple, extraordinarily bad is not awesome..
“Make the lie big, make it simple, keep saying it, and eventually they will believe it” -Adolf Hitler-
That’s how extraordinary people think.. They think big.. They overcome the barriers.. They know where the target is..
Simply choose bad or good
Comment by vanz21fashion — 21 February 2011 @ 8:31 am |
Thanks for the advice
Comment by Vv — 20 May 2011 @ 7:51 am |